STUDI KORELASI ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN PHBS
PADA PEDAGANG NASI KUCING DI
KECAMATAN MAGELANG UTARA
KOTA MAGELANG
PROPOSAL PENELITIAN
Disusun sebagai syarat menyelesaikan
Mata Kuliah Riset Keperawatan
Program Studi Keperawatan Magelang
Disusun Oleh:
Tama Priya Apendi
P17420509075
POLITEKNIK KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
MAGELANG
JL.Perintis Kemerdekaan Kotak Pos 221
Telp.(0293)365185 Fax 311073
Magelang
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Hidup bersih, sehat, bahagia dan
sejahtera adalah dambaan setiap orang. Hidup berkecukupan materi bukan jaminan
bagi seseorang bisa hidup sehat dan bahagia. Mereka yang kurang dari sisi
materi juga bisa menikmati hidup sehat dan bahagia karena kesehatan terkait
erat dengan perilaku masyarakat, pengetahuan atau budaya.
Menurut UU RI No.36 Tahun 2009 Pasal 1
Ayat 1 tentang kesehatan, dikatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif,
secara sosial ekonomis. Sementara
sehat menurut batasan UU No.9 tentang pokok-pokok Kesehatan dalam bab I, Pasal
2, yang disesuaikan dengan batasan WHO, dikatakan bahwa sehat adalah suatu
keadaan jasmani, rohani dan sosial yang sempurna dan bukan hanya bebas dari
penyakit, cacat dan kelemahan.
Orang dikatakan sehat apabila jiwa, jasmani
dan sosialnya sehat. Orang yang jasmaninya sehat, tentulah jiwanya sehat. Orang
yang jiwanya terganggu, niscaya jasmaninya terganggu ( Machfoedz,2003). Menurut
Budihardja (2004), berdasarkan beberapa survei di Dinas Kesehatan, masyarakat
yang berperilaku hidup sehat masih kurang dari 10%. Kurangnya perilaku hidup
sehat itu mengundang munculnya kebiasaan-kebiasaan tidak sehat di masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan
itu cenderung mengabaikan keselamatan diri dan lingkungan sehingga memudahkan
terjadinya penularan penyakit. Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat
Magelang masih perlu ditingkatkan, upaya yang dapat dilakukan dalam rangka
peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat adalah dengan peningkatan promosi
perilaku hidup bersih dan sehat pada masyarakat, khususnya para pedagang
makanan (Dinkes, 2009). Perilaku hidup seseorang, termasuk dalam hal kesehatan
dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut dapat berasal dari orang itu
sendiri, pengaruh orang lain yang mendorong untuk berperilaku baik atau buruk, maupun
kondisi lingkungan sekitar yang dapat mendukung terhadap perubahan perilaku
(Notoatmodjo, 2005).
Kota Magelang yang merupakan salah satu
kota di Jawa Tengah yang menempati posisi sangat strategis, karena terletak
tepat di tengah pulau Jawa dan berada di persimpangan poros utama yaitu: Yogyakarta,
Semarang, Wonosobo, Kebumen, Cilacap. Jaraknya 76 km dari Semarang dan 42 km
dari Yogyakarta merupakan kota perdagangan dan kota persinggahan antar provinsi
tentu menyediakan kuliner yang beraneka ragam tak terkecuali hidangan Kucingan atau
biasa juga disebut angkringan. Setiap malam terdapat pedagang yang menjual makanan
yang terkenal dimasyarakat ekonomi lemah.
Usaha perdagangan angkringan memudahkan orang untuk mendapatkan makanan atau
jajanan dengan harga terjangkau. Sayangnya pedagang angkringan biasa berada di tepi-tepi
atau pojok jalan tercemar dan tidak sehat.Kondisi tersebut berisiko terhadap
terjadinya penularan penyakit dikarenakan faktor lingkungan yang tidak sehat
(Hermayani, 2011). Penyakit menular yang terjadi antara lain TBC dan diare yang mudah menyerang pada
semua kelompok umur. Angkringan memang menyimpan potensi ekonomi yang cukup
besar. Angkringan juga menyimpan potensi negatif jika tidak dijaga kebersihan
dan sanitasinya. Angkringan yang dikelola tanpa mengindahkan prinsip kebersihan
akan menimbulkan masalah kesehatan bagi konsumennya (Hermayani, 2011).
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan pada pedagang angkringan
di Kecamatan Magelang Utara, bahwa pedagang belum berperilaku hidup besih dan
sehat. Hal ini dikarenakan di tempat kerja pedagang angkringan belum menjaga kebersihan
peralatan alat makan dan minum, masih terdapat kualitas fisik sumber air yang
tidak memenuhi syarat dan belum semua mempunyai saluran air kotor. Partisipasi
masyarakat dalam menjaga pola hidup bersih sehat belum sepenuhnya sesuai anjuran Depkes maupun WHO (WHO, 1992).
Sebenarnya penyedia makanan dan minuman seperti warung angkringan dapat ikut
berperan dalam keberhasilan program pengendalian penyakit menular. Meskipun demikian, pedagang sangat
terbatas kemampuannya untuk menjamin dagangannya tetap aman, sehat dan bergizi
untuk dikonsumsi setiap saat oleh semua golongan umur, sehingga penulis
tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara pendidikan, dan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) pada pedagang angkringan.
B. Masalah
Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut
dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Apakah ada hubungan antara
pendidikan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada pedagang angkringan di
Kecamatan Magelang Utara.
C. Tujuan
Penelitian
1. Tujuan
Umum
Mengetahui hubungan antara pendidikan, dan perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) pada pedagang angkringan di Kecamatan Magelang Utara.
2. Tujuan
khusus
- Mengetahui
pendidikan pedagang angkringan di Kecamatan Magelang Utara.
- Mengetahui perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) pedagang angkringan di Kecamatan Magelang Utara.
- Menganalisis
hubungan antara pendidikan dan PHBS pada pedagang angkringan.
- Menganalisis
hubungan antara pendidikan dan PHBS pada pedagang angkringan.
D. Manfaat
Penelitian
1. Bagi
ilmu pengetahuan
Menambah wacana/informasi mengenai hubungan antara pendidikan, dan
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
2. Bagi
masyarakat
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
informasi tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan
mencegah penularan penyakit.
3. Bagi
Dinas Kesehatan Magelang
Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya promosi perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) bagi masyarakat.
4. Bagi
peneliti lain
Sebagai referensi dalam penelitian selanjutnya tentang hubungan antara
pendidikan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
E. Ruang
Lingkup
Lingkup penelitian ini dibatasi pada
hubungan pendidikan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pedagang
angkringan. Variabel yang diteliti adalah “Tingkat Pendidikan Pedagang
Angkringan dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pedagang Angkringan. Subjek
penelitian adalah pedagang angkringan yang berada di wilayah Kecamatan Magelang
Utara. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Februari sampai dengan Maret 2012.
Tempat penelitian dilakukan di Kecamatan Magelang Utara.
F. Keaslian
Penelitian
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Pengertian
Pendidikan
Pendidikan adalah upaya persuasi atau
pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan
(praktik) untuk memelihara (mengatasi masalah-masalah), dan meningkatkan
kesehatanya (Notoatmojo, 2005). Pendidikan
kesehatan sangat penting diberikan sejak usia dini. Pendidikan kesehatan
yang diberikan sejak
dini akan membentuk kesadaran untuk berperilaku sehat
sejak dini. Beberapa penyakit
yang sering diderita
oleh anak usia dini merupakan penyakit
yang dapat dicegah dengan adanya
perilaku sehat ( Adiwiryono Mardhiati 2010).
Tingkat Pendidikan dapat berkaitan
dengan kemampuan menyerap dan menerima informasi kesehatan serta kemampuan
dalam berperan serta dalam pembangunan kesehatan masyarakat yang memiliki
tingkat pendidikan yang lebih tinggi pada umumnya mempunyai wawasan luas
sehingga lebih mudah menyerap dan menerima informasi, serta dapat ikut berperan
serta aktif dalam mengatasi masalah kesehatan dirinya dan keluarganya (Dinkes
Jawa Tengah, 2007)
B. Pengertian
Perilaku Kesehatan
Perilaku Kesehatan adalah (Healthy behavior) adalah respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang
berkaitan dengan sehat sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi
sehat-sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman dan pelayanan
kesehatan (Notoatmojo 2005).
C. Bentuk-Bentuk
Perilaku Kesehatan
Perilaku manusia menurut Notoatmodjo (2005), dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu:
1. Perilaku
Tertutup (Convert behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih
belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih
terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap
terhadap stimulus yang bersangkutan.
2.
Perilaku Terbuka (Overt behavior)
Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus sudah berupa tindakan
atau praktik ini dapat diamati orang lain dari luar (observable behavior). Contoh
: seorang ibu hamil memeriksakan kehamilannya ke puskesmas atau bidan praktik.
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2005), mencakup:
a.
Perilaku seseorang terhadap sakit dan
penyakit yaitu bagaimana manusia berespons, baik secara pasif (mengetahui,
bersikap dan mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan
diluar dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan
penyakit dan sakit tersebut. Perilaku terhadap sakit dan penyakit yang
dilakukan manusia, sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit antara
lain berupa:
1) Perilaku peningkatan dan pemeliharaan
kesehatan (Health promotion behavior)
2)
Perilaku pencegahan penyakit (Health preventions behavior).Misalnya tidur
memakai kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk malaria, imunisasi dan
sebagainya, juga termasuk perilaku untuk menularkan penyakit kepada orang lain.
3)
Perilaku pencarian pengobatan (Health seeking behavior) yaitu perilaku untuk
melakukan atau mencari pengobatan, misalnya usaha-usaha mengobati sendiri
penyakitnya atau mencari pengobatan ke fasilitas-fasilitas kesehatan modern
(puskesmas, mantra, dokter praktek, RS dan sebagainya), maupun ke fasilitas
kesehatan tradisional (dukun, sinshe).
4)
Perilaku pemulihan kesehatan (Health rehabilitations), yaitu perilaku yang
berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu
penyakit.Misalnya melakukan diet, mematuhi anjuran-anjuran dokter dalam rangka pemulihan
kesehatannya.
b.
Perilaku terhadap sistem pelayanan
kesehatan adalah respon seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan, baik
sistem pelayanan kesehatan modern maupun tradisional.Perilaku ini menyangkut
respons terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan
obat-obatannya.
c.
Perilaku terhadap makanan (nutrition
behavior), yaitu respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi
kehidupan, yang meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan
serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya (zat gizi), pengolahan makanan.
d.
Perilaku terhadap kesehatan lingkungan
(environmental health behavior) adalah respon seseorang terhadap lingkungan
sebagai determinan kesehatan manusia.Perilaku ini meliputi:
1)
Perilaku sehubungan dengan air bersih,
termasuk didalamnya komponen, manfaat dan penggunaan air bersih untuk
kepentingan kesehatan.
2)
Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut segi-segi
higiene, pemeliharaan, teknik dan penggunaannya.
3)
Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair.Termasuk
didalamnya sistem pembuangan sampah dari air limbah yang sehat, serta dampak
pembuangan limbah yang tidak baik.
4)
Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat, yang meliputi ventilasi,
pencahayaan, lantai dan sebagainya.
5)
Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk (vektor) dan
sebagainya.
- Pengertian Perilaku
Hidup Bersih Dan Sehat
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi
dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku,
melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana (social support) dan
pemberdayaan masyarakat (empowerment) sehingga dapat menerapkan cara-cara hidup
sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat
(Dinkes, 2006).
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan
yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat
menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan, dan berperan aktif dalam
kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat.Dalam PHBS juga dilakukan edukasi
untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan
(advocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat
(empowerment).PHBS pada tatanan rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota
rumah tangga agar sadar, mau dan mampu melakukan PHBS untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatannya, mencegah risiko terjadinya penyakit dan melindungi diri
dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di
masyarakat.PHBS tatanan institusi pendidikan adalah upaya pemberdayaan dan
peningkatan kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan
institusi pendidikan.PHBS tatanan tempat umum adalah upaya pemberdayaan dan
peningkatan kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan
tempat umum.PHBS tatanan pelayanan kesehatan adalah upaya pemberdayaan dan
peningkatan kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan
pelayanan kesehatan.PHBS tatanan tempat kerja adalah upaya pemberdayaan dan
peningkatan kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan
tempat kerja (Comisah Sualman 2010).
- Indikator
PHBS Tatanan Rumah Tangga dan Lingkungan
Dalam tatanan rumah tangga, yang menjadi
indikator PHBS adalah (Dinkes, 2006):
1.
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
2.
Imunisasi dan penimbangan
3.
Jamban keluarga
4.
Air bersih
5.
Penanganan sampah
6.
Kebersihan kuku
7.
Gizi keluarga
8.
Kebiasaan merokok dan menyalahgunakan
Napza
9.
Informasi PMS/AIDS
10. JPKM/Dana
sehat/Askes lainnya
Indikator lingkungan menurut Dinkes (2006), dalam PHBS, meliputi:
1.
Terdapat jamban, termasuk penggunaan dan pemeliharaanya
2.
Terdapat air bersih dan pemanfaatan untuk kesehatan
3.
Terdapat tempat sampah dan pengelolaannya
4.
Terdapat saluran pembuangan air limbah dan pengelolaannya
5.
Terdapat ventilasi
6.
Kepadatan penghuni
7.
Lantai bukan tanah
- PHBS Di
Tempat Kerja dan Tempat Umum
PHBS di tempat kerja merupakan upaya memberdayakan para pekerja agar
tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS serta berperan aktif dalam mewujudkan
tempat kerja sehat.Penerapan PHBS di tempat kerja diperlukan untuk menjaga,
memelihara dan mempertahankan kesehatan pekerja agar tetap sehat dan produktif
(Dinkes, 2009).Manfaat PHBS di tempat kerja diantaranya masyarakat di sekitar
tempat kerja menjadi lebih sehat dan tidak mudah sakit, serta lingkungan di
sekitar tempat kerja menjadi lebih bersih, indah dan sehat.
Syarat tempat umum yang sehat menurut
Dinkes (2009) yaitu:
1.
Mengkonsumsi makanan bergizi
2.
Melakukan aktivitas fisik setiap hari
3.
Tidak merokok di tempat kerja
4.
Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
5.
Menggunakan air bersih
6.
Memberantas jentik di tempat kerja
7.
Menggunakan jamban
8.
Membuang sampah pada tempatnya
- Hubungan Pendidikan dengan Perilaku Hidup
Sehat
Menurut hasil penelitian Ulfa (2009)
pada 48 siswa-siswi SDN Pajagalan I dan SDN Pajagalan II yang bertempat tinggal
di Kelurahan Pajagalan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat
pendidikan dan pengetahuan orang tua terhadap PHBS anak di SDN Pajagalan I dan
SDN Pajagalan II di Kabupaten Sumenep.Hasil penelitian Kusumawati (2004) dengan
sampel sebanyak 175 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Joyotakan Surakarta
mengemukakan bahwa ada hubungan antara pendidikan kepala keluarga dengan PHBS.
Zahara (2001) mengemukakan pula bahwa
ada hubungan positif sikap terhadap kebersihan lingkungan dengan perilaku hidup
sehat ibu dalam keluarga.Sikap seseorang terhadap sesuatu hal akan positif
apabila didukung dengan pengetahuan atau pemahaman yang baik akan hal tersebut.Makin
positif sikap ibu terhadap kebersihan lingkungan, maka makin tinggi pula
kualitas perilaku hidup sehat ibu dan sebaliknya makin negatif sikap ibu
terhadap kebersihan lingkungan, maka makin buruk pula perilaku hidup sehatnya
dalam keluarga.
- Angkringan
Dalam lingkup Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang),
warung ini dikenal sangat akrab bagi rakyat, karena mayoritas penikmatnya
adalah masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah. Di kota Semarang warung ini disebut
dengan sego kucing, di Yogyakarta ini disebut dengan angkringan dan di Solo
sering disebut dengan HIK, sedangkan di kota Magelang sendiri nama angkringan
atau kucingan lazim digunakan.Kesemuanya menuju pada satu nama tempat dimana
masyarakat berkumpul untuk makan sambil mengobrol dengan penerangan seadanya
berupa sentir atau lampu minyak, bermacam makanan kecil, 3 buah teko atau biasa
disebut dengan ceret dan yang menjadikan warung ini disebut sego kucing adalah
bungkusan nasi yang berisi nasi sekepel (segenggaman orang dewasa) dengan lauk
ikan teri, makanan seperti ini identik dengan makanan kucing sehingga
masyarakat lebih mudah mengingat sebagai sego kucing (Anonim, 2009).
Keunikan dari warung ini adalah dimana tidak hanya sebagai tempat
masyarakat mencari makanan, namun merupakan arena berkumpul untuk membicarakan
apapun yang dapat dibahas di sini tanpa perlu memikirkan pedagang akan
mengusirnya, walaupun hanya membeli teh satu gelas.Kenikmatan seperti inilah
yang biasanya tidak didapatkan di restauran atau tempat makan lainnya, atas
dasar keinginan untuk berbagi dan bersilaturahmi maka terjalinlah keakraban di
bawah tenda kuning bernama warung sego kucing.Di sini semuanya dapat
dibicarakan dan biasanya antara pedagang dan pembeli atau pembeli dan pembeli
akan membahas berita yang sedang menjadi pembicaraan umum saat itu, semua dapat
berbicara baik pedagang, tukang becak yang ada di sana hingga mahasiswa dan
pemuda-pemudi yang berwawasan luas.Ada satu keunikan yang sering terjadi pada
masyrakat yang berkumpul di warung ini, ketika semua bahan pembicaraan habis
maka muncul inisiatif pembicaraan yang bermula dari bungkus nasi yang biasanya
terbuat dari kertas koran (Anonim, 2009).
Setting di warung HIK diyakini memiliki pengaruh terhadap budaya guyub
yang dihasilkan dari kegiatan berkumpul dan makan di HIK ini.Banyaknya
pengunjung yang duduk di depan gerobak yang menyediakan makanan akan terasa
intim ketika duduk saling berhimpit dengan konsumen lainnya, mengambil makanan
dan dekatnya pedagang dengan konsumen menimbulkan interaksi yang kadang sulit
didapatkan di tempat lain.Menurut penuturan pedagang HIK, mereka berdagang
tujuannya untuk menambah persaudaraan, menyediakan tempat bagi pengunjung yang
ingin makan murah dan lengkap, dengan modal senyuman semuanya bisa menjadi
akrab dan guyub (Anonim, 2009).
I.
Kerangka
Konsep
Kerangka konsep merupakan bagian penelitian yang menyajikan konsep atau
teori dalam bentuk kerangka konsep penelitian. Pembuatan kerangka konsep
mengacu pada masalah-masalah yang akan diteliti atau berhubungan dengan
penelitian dan dibuat dalam bentuk diagram (Hidayat, 2007). Kerangka konsep
dari penelitian ini terdiri dari variabel dependen (variabel terikat) dan
variabel independen (variabel bebas).
Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi
sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2010). Variabel
ini juga dikenal dengan nama variabel bebas artinya bebas dalam mempengaruhi
variabel lain. Variabel independen dari penelitian ini adalah tingkat
pendidikan pedagang angkringan.
Variabel dependen adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi akiba,
karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2010). Variabel dependen dalam
penelitian ini adalah perilaku hidup bersih dan sehat pedagang angkringan.
Variabel
Bebas
Pendidikan
Pedagang Angkringan
|
-----------> |
Variabel terikat
Perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS)
|
|||
Gambar
2. Kerangka Konsep
- Hipotesis
Berdasarkan kerangka konsep yang
telah dipaparkan sebelumnya, maka hipotesis yang akan dimunculkan dalam
penelitian adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan
perilaku hidup bersih dan sehat pada pedagang angkringan di Kecamatan Magelang
Utara.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
observasional analitik dengan rancangan dalam penelitian ini adalah dengan
pendekatan cross sectional karena variabel bebas dan variabel terikat diambil
dalam waktu bersamaan sekaligus pada saat itu (point time approach) (Pratiknya,
2001).
B.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah pedagang Angkringan
yang berdagang di wilayah Kecamatan Magelang Utara.
C.
Waktu dan Tempat
Waktu penelitian dilakukan dari bulan Februari
sampai dengan Maret 2012.Tempat penelitian dilakukan di Kecamatan Magelang
Utara.
D.
Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah pedagang
yang berdagang di wilayah Kecamatan Magelang Utara.
2. Sampel
Analisis dalam penelitian ini adalah
analisis bivariat, maka sampel yang digunakan minimal 30 sampel.Data yang
didapat akan dianalisis dengan uji statistik chi square. (MENGHITUNG BESARAN SAMPLE)
3. Teknik
pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel menggunakan Simple
Random Sampling, yaitu dilaksanakan jika populasi tidak banyak variasinya dan
secara geografis tidak terlalu menyebar (Sumantri 2011).
E.
Variabel penelitian
Variabel penelitian adalah gejala yang
digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran yang menjadi fokus penelitian.Variabel
dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat.
1.
Variabel bebas
Tingkat
pendidikan pedagang Angkringan.
2.
Variabel terikat
Perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) pedagang Angkringan.
F.
Definisi Operasional Variabel
1.
Pendidikan
a.
Definisi: jenjang pendidikan formal yang
telah ditamatkan responden dengan mendapatkan ijazah.
- Alat ukur: dengan menggunakan pedoman wawancara
dan dilakukan dengan wawancara.
- Skala
pengukuran: kategorikal
0
= tidak sekolah sampai SD
1
= SMP sampai SMA
2
= Perguruan Tinggi (PT)
.
2. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
a.
Definisi: respon pedagang HIK terhadap
lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja yang diukur dengan skor perilaku.
b.
Alat ukur: dengan menggunakan pedoman
wawancara, dilakukan dengan wawancara dan pengamatan/observasi.
c. Skala
pengukuran: kategorikal
0
= kurang sehat
1
= sehat
G.
Pengumpulan Data
1.
Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini berupa
data kualitatif yang meliputi tingkat pendidikan pedagang HIK.
2.
Sumber data
Sumber data dalam penelitian ini adalah
data primer yang berasal dari wawancara dan pengamatan langsung dengan subjek
penelitian dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur.
3.
Cara pengumpulan data
Pengumpulan data primer dilakukan secara
langsung pada subjek penelitian.Pengumpulan data dengan wawancara langsung
menggunakan kuesioner terstruktur untuk mengukur variabel-variabel yang
diteliti.Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mendatangi instansi terkait
untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.
H.
Langkah-langkah Penelitian
1.
Jalannya penelitian
Jalannya
penelitian meliputi 4 tahap, yaitu:
a.
Tahap persiapan
Tahap tahap persiapan dilakukan pada
bulan pertama yang dilaksanakan antara minggu ketiga sampai minggu keempat bulan
Februari 2012.Pada tahap tersebut dilaksanakan revisi proposal dan survei tempat
penelitian di Kecamatan Magelang Utara.
b.
Tahap pelaksanaan
Tahap pelaksanaan penelitian ini
dilaksanakan pada minggu ketiga Februari hingga minggu kedua Maret 2012.Pada
tahap pelaksanaan dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner
yang
terstruktur.Wawancara dilakukan dengan mendatangi tiap tempat tinggal dan
tempat kerja subjek penelitian.
c.
Tahap analisis data
Analisis data dilaksanakan pada minggu
ketiga sampai minggu keempat bulan Maret 2012. Kuesioner yang telah terkumpul
dilakukan pencatatan skor masing-masing kuesioner, diteruskan dengan memasukkan
data menggunakan software komputer SPSS versi 17.Setelah data terkumpul
dilakukan analisis data untuk menentukan korelasi antara variabel yang akan
diukur.
d.
Tahap penyelesaian akhir
Tahap akhir terdiri dari penulisan
laporan dan penyajian hasil.Penulisan laporan dilaksanakan pada minggu ke-empat
bulan Maret 2012.
2.
Pengolahan data
Pengolahan dan analisis data dengan
menggunakan software komputer yaitu SPSS versi 17.
I.
Analisis data
1.
Analisis univariat
Analisis univariat bertujuan untuk
melihat distribusi frekuensi dan persentase tiap variabel yang diteliti.
2.
Analisis bivariat
Analisis bivariat adalah analisis yang
melibatkan sebuah variabel dependen dan sebuah variabel independen.Untuk
menguji hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat digunakan
analisis statistik dengan uji chi square.Dasar pengambilan hipotesis penelitian
berdasarkan tingkat signifikansi (nilai p), yaitu:
a.
Jika nilai p > 0,05 maka hipotesis penelitian ditolak
b.
Jika nilai p < 0,05 maka hipotesis penelitian diterima
Daftar Pustaka
Anonim,
2009. Sego-Kucing-Angkringan-Hidangan Istimewa Kampung. Tersedi
dalam:http://www.facebook.com/pages/Sego-kucing-angkringan60697165928
Diakses
tanggal 5 Februari 2012.
Budihardja.
2004. Perilaku Hidup Sehat Masyarakat
Kurang. http://suar
merdeka.com/harian/0310/02/kot18.htm.
Semarang: Diakses tanggal 5 Februari
2009.
Hermayani,2012.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=4407Cached
Diakses
Tanggal 6 Februari.
Zaahara,
T. 2000. Upaya Peningkatan Perilaku
Hidup Sehat Dalam Keluarga
Dalam
Rangka Pembangunan Keluarga Sejahtera.
http://www.
Depdiknas.go.id/jurnal/30/upaya
peningkatan_perilaku_hidup.htm. Jakarta.
Diakses
tanggal7 Februari 2012.
Ulfa,
M. 2009. Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Orang
Tua
Terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Anak di SDN
Pajagalan
I Dan II di Kabupaten Sumenep. [Skripsi] Jember: Universitas
Jember.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar